PT Lambang Sejati
Home / Blog Detail

Blog Detail

5 Alasan KPR ditolak dan Cara Mengatasinya

Oleh : Dewi Ayu | Tanggal 2020-10-27 05:33:24

realestate

Kredit Pemilikan Rumah (KPR) menjadi solusi untuk mewujudkan hunian impian bagi banyak orang.

Hanya dengan menyiapkan sejumlah uang muka dan mencicil sisanya, memiliki rumah tak lagi sekedar khayalan. Apalagi di tengah harga rumah yang semakin melangit, membeli rumah secara tunai pun terasa sulit.

Sayangnya, tak semua orang mampu dengan mudah untuk menikmati fasilitas KPR dari bank. Ada alasan-alasan tertentu yang bisa menghambat keinginanmu punya rumah sendiri lewat KPR. Coba cek daftar berikut ini.

Penghasilan tidak cukup untuk membayar angsuran

Alasan yang paling utama bagi bank menolak KPR adalah bank menilai bahwa kita tidak cukup kemampuan untuk membayar cicilan. Bank mengambil keputusan setelah mempelajari kondisi keuangan anda. Mereka akan melakukan survey terhadap informasi yang anda berikan.

Penilaian utama adalah dari pendapatan rutin, seperti gaji bagi karyawan dan print-an rekening beberapa bulan terakhir bagi non karyawan. Join income tidak lupa juga diperhitungkan. Memang ada orang yang nekad memperbaiki data rekeningnya (baca=menggoreng rekening), tapi itu sangat berbahaya.

Jika ketahuan, maka nama anda akan selamanya tercela di mata perbankan. Selain itu data rekening anda tidak menunjukkan kondisi sebenarnya keuangan anda sehingga akan memberikan implikasi negatif nantinya terhadap kemampuan bayar cicilan, jika aplikasi disetujui.

Pada umumnya bank merestui bahwa besarnya cicilian adalah hanya sepertiga dari penghasilan total, jika bank merestui penghasilan diluar penghasilan yang tercatat. Jika penghasilan anda enam juta rupiah perbulan, maka maksimal besarnya cicilan yang diijinkan bank adalah dua juta rupiah.

Tidak punya cukup uang untuk membayar uang muka

Saat ini besarnya uang muka sudah diatur oleh pemerintah melalui Surat Edaran Bank Indonesia No. 15/40/DKMP tanggal 24 September 2013, mengenai Loan To Value (LTV) dimana inti dari SEBI ini adalah untuk membatasi pemberian KPR dan agar bank menerapkan prinsip kehatia-hatian dalam pemberian kredit.

Tetapi untuk tipe rumah menengah ke bawah atau untuk rumah tipe di bawah 70 dan untuk rumah pertama tidak terlalu terikat dengan peraturan tersebut. Besarnya uang muka masih mengikuti kebijakan bank secara umum yaitu dua puluh persen.

Apabila anda ingin mengajukan KPR untuk rumah dengan harga tiga ratus juta rupiah, maka uang muka yang harus anda sediakan adalah enampuluh juta rupiah ditambah dengan biaya-biaya lainnya seperti provisi, administrasi, biaya notaris dan PPAT, appraisal dan lain-lain.

Jika anda tidak memiliki uang muka sebesar yang disyaratkan, sulit bagi bank untuk meng-approve aplikasi KPR anda.

Nasabah memiliki banyak hutang dalam waktu yang sama

Bank bisa melihat hutang anda pada bank lain, karena bank bisa meminta data nasabah pada BI. Jika bank melihat bahwa anda sudah memiliki hutang, maka bank akan berfikir untuk menyetujui aplikasi anda. Besaran kewajiban anda saat ini harus diperhitungkan bank untuk kelancaran pembayaran cicilan nantinya.

Tidak hanya hutang dalam bentuk KPR yang diperhitungkan, tetapi hutang dalam bentuk lain juga akan dipertimbangkan, seperti hutang kartu kredit. Jika tagihan kartu kredit anda cukup besar, maka ini juga akan menjadi pertimbangan bank untuk menyetujui aplikasi KPR anda.

BI Checking

BI Checking merupakan proses permintaan sejarah kredit debitur selama 24 bulan terakhir. Baik atau tidaknya riwayat kredit seorang nasabah akan terdata dan dapat terlihat pada Sistem Informasi Debitur (SID) Bank Indonesia. Tak jarang seseorang mengalami penolakan saat mengajukan kredit ke bank karena riwayat kredit yang buruk.

Sebelum mengajukan KPR, kamu bisa melakukan BI Checking sendiri terlebih dahulu. Dengan begitu, kamu bisa tahu sejauh mana potensi bank menerima permintaan kreditmu. Caranya dengan mengakses situs resmi Bank Indonesia dan mengisi formulir yang tersedia.

Jika kamu sudah mengetahui hasilnya dan ternyata buruk, kamu bisa memperbaiki namamu dengan melunasi semua tunggakan. Dan jika kamu menemukan kekeliruan, misalnya kredit sudah lunas tetapi kamu mendapat nilai buruk, maka segera urus ke kantor Bank Indonesia dengan membawa bukti pelunasan.

Tidak meyakinkan saat wawancara

Proses wawancara juga turut mempengaruhi apakah bank akan menyetujui permohonanmu atau tidak. Berusahalah berbicara dengan sopan, jujur, tidak berbelit-belit dan berpenampilan rapi. Jangan lupa untuk memancarkan kepercayaan diri.